Salam sejahtera..
Sabtu malam tanggal 03 September 2022.. Arzentrha, kang d”b, dan teh Angga “ngalong” mengadakan time travell bareng ke Stasiun Radio Cililin pada masa lalu (Masa Hindia-Belanda).
Sejak sore, sebelum berangkat, kita nampak sudah tak sabar ingin segera melakukan perjalanan waktu tersebut.
Pukul 21.33 wib, kita ke Kendan lalu ke Rhamalla. Ternyata, yang sudah siap berangkat ada tiga orang, yaitu kang d”b, teh Angga, dan Arzentrha. Sementara yang lain, karena ada satu dan lain hal, tidak jadi ikut.
Di Rhamalla, kita ijin akses portal dimensi ruang-waktu dengan tujuan Stasiun Radio Cililin di masa Hindia-Belanda.
Bismillah,
Kita masuk ke dalam portal, kesedot, dan jumpalitan. Syukur banget kita bisa keluar dari lorong tersebut dengan selamat, lalu di depan kita nampak hutan yang di belakangnya ada bukit, pada kondisi malam hari.
Meski malam, tapi tidak gelap segelap yang dibayangkan, langitnya terang banyak bintang.
Saat itu kita melihat cahaya terang yang ada di sebelah kanan. Kita telusuri dari mana asalnya, kita berjalan di jalanan berbatu. Tidak begitu lama, kita sampai di sumber cahaya. Ternyata itu cahaya lampu dari gedung stasiun radio. Kita lihat stasiun radio itu berdiri di atas hamparan tanah yang sangat luas, lahan bekas hutan yang baru saja dibuka.
Saat kita masih berdiri di pinggir jalan berbatu tanpa disadari ada orang yang melintas, ia mengenakan topi dan menjinjing lentera sebagai alat penerangannya.
Kita penasaran, mau tanya ke orang yang lewat tersebut, ingin tahu sekarang ini ada di mana dan tahun berapa. Ternyata, ia orang pribumi dengan bahasa logat sunda yang sangat halus. Awalnya, saya agak kesulitan untuk mulai komunikasi dengan orang setengah baya itu. Lama-lama Arzentrha baru mengerti ucapannya, ia mengatakan kalau ini adalah kawasan Stasiun Radio Cililin, di tahun 1916.
Gara-gara keasyikan mengobrol, Arzentrha pun kehilangan jejak kang d”b dan teh Angga. Arzentrha celingak-celinguk mencari keberadaan kang d”b dan teh angga.
Dari kejauhan, Arzentrha lihat mereka sudah ada di depan. Arzentrha pun pamit sama orang itu dan buru-buru menghampiri teh Angga dan kg d”b.
Lalu, teh Angga bilang, “Ini kita, ada di hamparan luas lho kang dan di sekelilingnya masih hutan-hutan. Kalau di masa depan hamparan luas ini, bisa jadi udah menjadi rumah-rumah.” Arzentrha pun hanya mengamini apa yang dijelaskan teh Angga sebab di masa sekarang saya belum pernah ke cililin, apalagi ke stasiun radio.
Lalu, kita melanjutkan perjalanan, menyusuri jalanan berbatu, jalan yang bisa dilalui mobil kalau di jaman sekarang.
Kondisi saat itu nampak sepi. Belum terlihat ada orang sama sekali. Namun, setelah kita sampai di stasiun radio terlihat ramai banyak orang, mereka sedang latihan militer, seperti persiapan untuk perang. Suasananya mendadak jadi mencekam. Kita lihat latihan militer itu dipimpin oleh seorang yang berbadan besar/ berisi, yang berdiri di atas panggung kecil.
Sementara di sisi lain, Arzentrha lihat ada beberapa orang yang tergeletak mati di tanah, entah mati disiksa atau mati kelaparan akibat kerja rodi.
Arzentrha baru ngeh, ucapan si bapak yang tadi, yang katanya kita ada di tahun 1916, berarti kita masuk ke jaman Perang Dunia 1. Mau membatalkan misi, tapi sudah nanggung nyemplung.
Kita buru-buru bergerak mempercepat langkah kaki, beranjak pergi dari tempat itu dan langsung menuju ke Bukit Geger Pulus. Soalnya tidak mungkin kalau kita masuk ke stasiun radio, di saat kondisi yang tidak kondusif.
Kita menuju ke bukit dengan medan jalan yang sedikit menanjak. Arzentrha melihat di atas, ada jalan belokan ke arah kanan. Arzentrha menuju ke sana dan menunggu kang d”b dan teh Angga di bawah pohon pinus.
Pas kita sudah sampai di belokan, Arzentrha mendengar riuh suara kereta kuda berlari kencang dari bawah mengarah ke kita. Angga melihat kereta kuda itu terlihat terang bercahaya.
Kita bersembunyi di balik semak – semak, supaya tidak terlihat sama orang yang ada di dalam kereta.
Saat kereta kuda tersebut melintas, teh Angga dan Arzentrha mencium bau amis yang menyengat dari dalam kereta, baunya seperti bau amis darah, sayup-sayup terdengar juga suara orang sedang mengobrol. Arzentrha curiga kereta kuda itu membawa mayat. Pokoknya suasana itu cukup mengerikan. Sementara, kang d”b sempat melihat ada petugas averantz yang mengejar kita, tapi averantz itu malah masuk ke kantor radio, nyasar.
Mungkin kereta kuda tadi menghindar pergi dari averantz karena ketakutan melihat Averantz ini, seperti seorang polisi sehingga mereka berupaya membawa lari mayat – mayat yang tergeletak di tanah, dengan kereta kuda.
Saat melihat keadaan di sekeliling, Arzentrha lihat dari kejauhan ada satu orang yang berlari menuju kita, Arzentrha perhatikan, ternyata tukang pukul yang tadi ada di atas panggung.
Mau tak mau, akhirnya kita lari. Si tukang pukul itu melihat kita dan bilang, “Hey, saha eta didinya?? dagoan aing siah.” Tanpa menjawab sepatah kata pun, kita langsung berlari.
Karena sudah tidak kuat, nafas sudah ngos-ngosan akhirnya kita memilih bersembunyi saja di atas pohon beringin. Kita naik ke pohon beringin yg batangnya sangat besar.
Kita pun menyusun siasat, jika si tukang pukul kumis baplang coba mendekat. Kita mau mengeluarkan suara yang seram – seram supaya ketakutan.
Dari atas pohon, kita lihat si tukang pukul lagi planga-plongo di jalan. Eh, ternyata benar, si tukang pukul juga menghampiri pohon beringin. Waduh, makin deg²an, rasa-rasanya jantung mau copot.
Akhirnya, kita serentak mengeluarkan suara andalan masing-masing. Arzentrha mengeluarkan suara macan yang ngagerem, teh angga mengeluarkan suara kuntilanak melengking, kang d”b mengeluarkan suara kalong wewe. Walhasil, si tukang pukul ngibrit.
Setelah situasi dirasa aman, kita keluar dari persembunyian, satu per satu loncat dari pohon beringin. Pas sudah ada di bawah, kita lihat si tukang pukul masih ada di dekat kita. Sepertinya beliau sedang dilema, mau balik lagi, tapi masih takut ketemu polisi aneh (averantz).
Di saat tukang pukul masih bimbang, kita pun buru² melanjutkan perjalanan ke titik tertinggi Bukit Geger Pulus.
Di tengah perjalanan, ternyata si tukang pukul yang tadi, sudah ada di belakang kita. Kali ini dia tidak sendirian, tapi lari bersama teman-temannya. Arzentrha lihat mereka berlari histeris, seperti dikejar sesuatu. Mereka lari ke arah kita, tapi bukan mau mengejar. Tapi ketakutan sama satu orang averantz yang bawa senapan panjang di belakangnya.
Karena medan jalan ke atas bukit, semakin menanjak, energi kita pun terkuras habis. Arzentrha gendong kang d”b dan teh angga, kemudian melayang menuju ke atas Bukit Geger Pulus. Beruntung kita bisa dengan cepat tiba dan menjauh dari tukang pukul dkk dan Averantz.
Tak lama, kita pun sudah sampai di di atas bukit. Kita landing dan nyungsep jatuh ke rumput.
Melihat kondisi sudah aman, Arzentrha pun rebahan sebentar karena merasa kecapaian hehe
Lalu, kita bertiga duduk sila mulai berdiskusi, mencoba untuk mulai eksplor bukit Geger Pulus. Ada apa di bukit Geger Pulus ini?
Kang d”b langsung merespon dengan cepat, dia menjelaskan sambil dilengkapi hologram, “Arzentrha tadi, lihat ada visual lempeng bertumpuk di dalam bukit.”
“Ada dua jalur pipa satu kebawah tanah, satu horizontal menyamping.”
” Ada inputan jejak bropa/mosram.”
“Sinyal radio emang paling jernih di sekitar gedung yang dia bangun”
“Inputannya, gelombang suara di tkp lebih jernih juga karena efek air disekitar area/bisa berupa lapisan air di bawah tanah.”
Selanjutnya, giliran Arzentrha yang berpendapat. Kalau yang Arzentrha lihat, bukit Geger Pulus ini dulunya relay. Makanya terlihat ada lempeng bertumpuk atau bertingkat. Relay kuno yang terkubur, tapi masih berfungsi.
Lantas, giliran teh Angga berkata, kalau dia melihat ada semacam lapisan-lapisan di bawah tanah.
Di saat sedang menjelaskan, tiba-tiba teh Angga mendapatkan inputan visual kalau Dorphall yang ada di sekitar sini pernah diangkut keluar nusantara. Diangkut oleh orang yang ciri-cirinya berbadan tinggi-kurus.
Kg d”b pun menambahkan, kalau yang dia lihat juga sama, sepertinya ada satu dorphall dibawa ke Eropa dan digunakan sebagai material campuran untuk bahan bakar mesin uap.
Nah, kalo penglihatan Arzentrha dorphall yang digali tersebut hanya sebuah dorphall kecil. Setelah digali kemudian dibawa ke Eropa untuk diambil isinya (thorium) sebagai bahan akselerator memanaskan air.
Setelah panjang lebar berdiskusi tentang lokasi yang sedang kita datangi itu, akhirnya kita pun bergegas pulang ke Rhamalla. Setiba di Rhamalla, kita bersih-bersih dulu dan menghapus jejak-jejak frekuensi perjalanan kita yang tadi.
Ada beberapa kesan yang bisa Arzentrha dapat tentang perjalanan time travell kali ini:
Meski Hindia-Belanda tidak diserang, tapi suasana perang di Eropa efeknya cukup terasa dan mempengaruhi sampai ke Nusantara.
Centeng dan tukang pukul yang katanya tokoh masyarakat pada saat itu, nyatanya berpihak kepada duit, bukan kepada kaumnya sendiri, rakyat pribumi.
Setelah meng-off-kan diri, lalu Arzentrha penasaran apa benar Stasiun Radio Cililin dibangun pada tahun 1916? Arzentrha Googling dan menemukan data terlampir.
Ternyata benar. Kita benar-benar balik ke masa lalu, ke stasiun radio Cililin di tahun 1916.